Chef Masami Okamoto , tentang japanese seafood

Chef Masami Okamoto

Japanese Chef at The Japanese – Sari Pacific Jakarta Hotel

Chef Masami Okamoto adalah seorang Japanese Chef yang sudah tiga dekade berkeliling dunia belajar dan menciptakan berbagai menu Japanese dish dan saat ini bekerja sebagai Japanese Chef di The Japanese – Sari Pacific Jakarta Hotel. Di sela-sela kesibukannya, Chef Masami Okamoto berbagi pengetahuan mengenai sajian makanan laut khas Jepang untuk pembaca BARECA Magazine.

Kekhasan Japanese Seafood

Perbedaan yang paling mencolok terlihat pada setiap hidangan Japanese Seafood adalah penggunaan saucing yang dipakai sebagai pelengkap hidangan, seperti traditional Japanese soy sauce (shoyu), mirin (sweet cooking sake), sake, miso, salt, pepper dan berbagai herbs. Perbedaan lain tentu juga terdapat pada teknik penyajiannya.Yang paling utama dalam penyajian hidangan Japanese Seafood adalah bahan bakunya.

Proses Penyimpanan

Idealnya proses penyimpanan hasil laut ada di dalam cold-storage bersuhu 2˚-3˚ Celsius, dan tidak dalam suhu minus. Penyimpanan ikan dilakukan tepat setelah isi perut dibuang dan dibersihkan, karena jika tidak dapat merusak ikan tersebut.

Pun sama halnya dengan orang Jepang yang memotong sedikit bagian perut ikan tepat setelah mendapat hasil pancing dari laut, tunggu hingga semua darah keluar, kemudian baru disimpan dalam lemari pendingin. Perlakuan ini akan menentukan apakah daging ikan dapat kemudian dibuat Sashimi, Sushi, dibakar, atau variasi teknik penyajian lainnya.

Teknik Memasak Japanese Seafood

  • SashimiItaba istilah untuk chef khusus Sashimi.

Biasanya Salmon adalah ikan yang paling banyak dinikmati bagi penikmat Sashimi.

  • Grilled / RobatayakiYatiba istilah untuk chef khusus Robatayaki.

Contoh sajian, hamachi kama yang disajikan selama 10-15 menit, tergantung ukuran ikan dan panas dari api yang digunakan untuk pembakaran. Terdapat panggangan utama di tengah yang digunakan chef untuk memasak dengan pengaturan kursi di sekelilingnya. Hasil laut mentah berada di cooking station, yang bisa ditunjuk untuk dimasak sesuai keinginan konsumen.

  • Deep Fried / TempuraAgeba istilah untuk chef khusus Tempura.

Teknik yang paling cepat dalam penyajian makanan Jepang, kurang lebih digoreng selama tiga menit

  • Steam / Mushi.

Contoh sajian, Chawanmushi (steam-egg custard dengan udang, ayam, jamur, daun mitsuba), yang di-steam sekitar 8 menit. Contoh lainnya adalah penyajian steam-fish yang lama matangnya bergantung pada ukuran ikan, sekitar kurang lebih 15 menit.

  • Teppanyaki

Sajian makanan Jepang yang disajikan di atas iron big grill-plate, biasanya chef melakukan ‘cooking show’ sebagai gimmick bagi para tamu.

Budaya Jepang

Hidangan Jepang, khususnya Japanese Seafood biasanya mengikuti keempat musim yang ada di Jepang, sebagai contoh pada Musim Semi, ada hidangan sakura-ebi (udang kecil yang digoreng/tempura). Kemudian pada Musim Gugur hidangan yang biasa disajikan adalah jamur, begitupun berbagai varian ikan pada Musim Panas dan Musim Dingin.

Saat tamu menikmati sajian hidangan laut tidak ada kewajiban budaya jepang yang harus diikuti, namun manner seperti pada umumnya tetap berlaku. Bergantung pada formal dan informal-nya acara makan yang bersangkutan.

Tren Makanan Laut

Chef Masami Okamoto melihat tren orang Indonesia yang menyukai Japanese Seafood, lebih berminat ke sajian grilled dish/Robatayaki, lalu Sashimi dan Sushi. Dari kesemua teknik sajian ini, ikan yang paling diminati adalah Salmon dan Gindara. Biasanya sajian Sashimi yang difavoritkan adalah olahan ikan Salmon dan Tuna, sedangkan pada sajian Sushi , orang Indonesia lebih menyukai bagian perut ikan Salmon (Salmon Otoro).

“Minuman terbaik dan aman saat menikmati hidangan laut, ataupun bagi semua sajian makanan Jepang adalah Sake,” demikian Chef Masami Okamoto yang sudah berkiprah selama 10 tahun di Indonesia, menutup penjelasannya.

Penulis : Yohanes Christ

Leave a Reply