Penyerahan Bareca Awards 2018 kepada Anomali Coffee

“Salah kalau beranggapan Anomali Coffee itu bisnisnya adalah coffee shop,”demikian Irvan Helmi, salah satu pendiri Anomali Coffee menegaskan saat kami berbincang dengannya.

Pada 1 November 2018 lalu, Bareca Magazine menyerahkan Bareca Award 2018 kepada Anomali Coffee sebagai salah satu Café yang kami nilai memberikan kualitas produk yang unggul kepada pelanggannya.

Pada kesempatan tersebut, Petrus Gandamana, Pemimpin Redaksi Bareca Magazine, menyerahkan langsung Bareca Awards 2018 kepada Irvan Helmi.  Saat penyerahan Bareca Awards tersebut juga dilakukan perbincangan untuk menggali lebih jauh mengenai bisnis Anomali Coffee.

Bagaimana Anomali Coffee Berawal?

Irvan Helmi yang lulusan Software Engineering dan sahabatnya Agam lulusan Mechanical Engineering, pada usia 22 tahun, di tahun 2005, melihat bahwa gerai-gerai kopi dari luar negeri mulai masuk ke Indonesia. Mereka terlecut oleh suatu semangat untuk mau menandingi gerai-gerai internasional tersebut dengan mengangkat kopi-kopi unggulan Indonesia sekaligus café-cafenya agar bisa menjadi Tuan Rumah di negeri sendiri.

“Kami tidak punya pengalaman dalam bidang kopi, jadi ya kami keliling ke berbagai café-café yang ada di Jakarta, mulai dari yang moderen sampai toko kelontong kopi di Tanah Abang dan Cikini, untuk belajar mencicipi kopi-kopi Indonesia berkualitas tinggi,” demikian Irvan menjelaskan.

Sebagai negeri penghasil kopi yang besar di dunia, sekaligus memiliki kekayaan ragam kopi (specialty coffee) yang eksotis dan bernilai tinggi, maka mereka yakin bahwa kopi unggulan Indonesia harus dikenalkan ke masyarakat Indonesia, sehingga masyarakat luas bisa menikmati sekaligus menghargai keunggulan kopi-kopi Indonesia seperti orang Prancis menghargai wine unggulan mereka.

“Kami terus belajar, salah, belajar lagi, terus sampai menemukan sesuatu yang baru dari pelajaran tersebut. Itulah DNA Anomali Coffee,”tegas Irvan menyampaikan filosofinya. Berbagai pihak seperti para petani, teknisi mesin kopi, akademisi, pedagang eceran kopi, tengkulak, semua adalah para pihak di mana mereka belajar dalam bisnis kopi ini.

Kegiatan di ICA

Tantangan Bisnis di Awal

“Dulu kalau kami menyajikan kopi Indonesia bermutu, yang rasanya asam, pelanggan mengira kopinya rusak, Atau kalau kami sajikan Cappuccino mereka bilang susunya basi karena minumannya agak asam. Padahal cita rasa kopi tertentu memang ada yang agak asam,”Irvan tertawa. Hal semacam itu menjadi tantangan bagi mereka.

Selain itu bisnis yang masih kecil ukurannya membuat mereka kadang tidak dipandang sebelah mata oleh para pedagang kopi, yang saat diminta oleh mereka syarat-syarat kualitas yang diinginkan namun jumlah pembeliannya kecil, oleh pedagang kopi tidak diladeni. Hal demikian justru menjadi berkah tersendiri. Mereka harus menemui para petani kopi, belajar dan sekaligus mendidik para petani kopi agar menyediakan biji kopi yang bermutu baik agar bisa dibeli dengan harga yang tinggi, sehingga kesejahteraan para petani akan bisa terangkat.

Tantangan Kopi di Indonesia

“Produktifitas lahan kopi kita kalah dibandingkan Vietnam yang bisa menghasilkan 4 sampai 5 ton per hektar. Hasil kopi Indonesia rerata sekitar 550 kg perhektar,” demikian Irvan menjelaskan. Hal ini ke membuat Indonesia akan berada pada posisi semakin rawan karena akan defisit antara hasil panen dengan konsumsi kopi yang meningkat di dalam negeri dan pasaran dunia.

Untuk membuat para petani mau peduli dengan budi daya menanam kopi yang memberi mereka kesejahteraan, adalah tugas semua pihak (petani, pembeli, roaster, pemilik café, pemerintah) untuk bersama-sama meningkatkan cara bertanam yang baik sekaligus proses paska panen yang baik pula.

Selain itu lamanya hutang yang dibayar para pedagang ke petani dan juga pabrik-pabrik kopi ke para trader, membuat insentif di bisnis ini menjadi tidak menarik. Untuk itu Anomali Coffee memutuskan terjun ke bisnis Trading pula agar mereka bisa memastikan terjadinya fair-trade sehingga keberlangsungan pasokan kopi ke café-café juga terjaga.

Edukasi Pasar dan Kompetisi

Tanpa pasar memahami sekaligus menghargai bagaimana kualitas sajian secangkir kopi yang bermutu, maka insentif ke para petani juga akan terus rendah, alias menjadi lingkaran setan yang tiada putusnya. Maka Anomali Coffee akhirnya memutuskan membuka Indonesia Coffee Academy (ICA).

“Di ICA kami menerapkan standar-standar ideal tentang bagaimana minuman kopi diproses dan disajikan oleh seorang Barista yang profesional. Di sanalah nilai tambah dari biji kopi dari sekian puluh ribu Rupiah sekilo menjadi sekian puluh ribu Rupiah beberapa gram dalam secangkir minuman kopi terbentuk,” Irvan menjelaskan.

“ICA akan terus menjadi Capacity Builder. Berbagai training berkualitas, bahkan untuk kompetitorpun kami berikan, karena ICA terbuka bagi siapa saja, terus kami gelar,”Irvan menegaskan.

Tanpa kompetisi maka kemampuan untuk membesarkan pasar kopi Indonesia, di mana saat ini pertumbuhan konsumsi Indonesia 2 kali lipat pertumbuhan konsumsi dunia, tidak akan terbantu. Bagi Anomali Coffee, kompetitor itu adalah lawan untuk perang di produk dan layanan namun kawan dalam penetrasi pasar.

“Dengan demikian kami akan terus fokus dan tak pernah berhenti memberikan kepada masyarakat Indonesia sajian kopi Indonesia yang berkualitas. Itulah sebenarnya bisnis Anomali Coffee,”Irvan menutup perbincangan.

Penulis          : Petrus Gandamana

Fotografer   : Hendri Wijaya

Leave a Reply