Suyenni, Tentang Hot Chocolate di Indonesia

Sebagai pemilik LIMA, cafe berkonsep coffee shop and chocolate drinks, Suyenni atau yang akrab disapa Yenni, mengakui dirinya memiliki ketertarikan terhadap cokelat. Yenni juga mengatakan bahwa dirinya salah satu penggemar minuman cokelat terutama hot chocolate yang selalu memberikan sensasi tersendiri saat menikmatinya.

Berikut pemaparan Yenni mengenai hot chocolate yang berhasil dirangkum oleh BARECA Magazine:

  1. Tren hot chocolate di Indonesia sudah ada sejak lama walaupun tidak sampai menjadi main drinks. Lain halnya dengan di luar negeri dimana minuman cokelat menjadi minuman favorit hampir semua orang.
  2. Di Indonesia, hot chocolate drinks kalah pamor dengan tren menyeruput segelas kopi panas. Terlepas dari hal tersebut, komunitas pecinta chocolate drinks selalu menikmati minuman cokelat baik yang disajikan dingin maupun panas. Biasanya segelas cokelat panas menjadi pilihan yang sangat tepat di kala musim penghujan.
  3. Menikmati hot chocolate memberikan rasa kepuasan tersendiri, terlebih jika minuman cokelat tersebut menggunakan cokelat yang kandungan kokoanya lebih tinggi ketimbang kandungan gulanya. Menikmati segelas minuman cokelat di sela-sela kesibukan juga dapat menjadi mood booster.
  4. Membuat chocolate drinks yang maksimal, yang akan semakin mengeluarkan karakter asli biji kakaonya, lebih disarankan tidak menggunakan chocolate powder atau sirup karena itu hanya berupa aroma saja, hasilnya tidak seperti jika menggunakan real chocolate ataupun cocoa powder.
  5. Hot chocolate drinks yang rasanya maksimal adalah yang rasanya tidak terlalu manis atau tidak manis saat diminum. Karakter asli dari biji kakao ataupun cocoa mass-nya harus lebih dominan daripada kandungan gula yang ada di dalam segelas hot chocolate drinks.
  6. Untuk segelas hot chocolate, sebaiknya menggunakan cokelat couverture yang kandungan kokoanya sebesar 50%-85%, dengan menggunakan perbandingan 1:4 (komposisi cokelat yang digunakan adalah 25% atau 1 bagian dan 75%-nya atau 4 bagian adalah fresh milk), dipanaskan dengan suhu berkisar 70°-85°Celsius. Jika persentase kuantitas cokelat yang digunakan lebih dari 25% rasanya akan lebih kental; lidah orang Indonesia mungkin belum terbiasa dengan tekstur ini.

Penulis: Linda Endyanto

Fotografer: Kanno Sardella

Leave a Reply