Kopi Mengani, Kopi Bali yang Unik dan Langka

Jika berbicara mengenai Bali dan kopi, orang-orang akan menyebut kopi Kintamani. Padahal Bali tidak hanya memiliki kopi Kintamani saja, ada pula kopi Mengani. Meski kurang mendapat eksposur, cita rasa kopi Mengani tak kalah dengan kopi Kintamani.

Kopi Mengani yang ditanam di Desa Mengani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali ini tumbuh pada ketinggian 1.000-1.200 mdpl (meter di atas permukaan laut). “Kopi Mengani merupakan biji kopi yang unik dan langka,” Riki Kurniawan, Head Roaster Simetri Home Coffee Roasters, mengawali perbincangan.

Disebut unik karena kopi Mengani memiliki keunikan dalam karakteristiknya, yaitu beraroma granola, tamarind, dan orange sebagai salah satu ciri kopi Bali.

“Persebaran kopi Mengani di Indonesia, khususnya di Jakarta masih sangat jarang karena kopi Mengani baru ada di Jakarta sejak 3 tahun belakangan ini, karena itulah kopi Mengani termasuk salah satu kopi langka. Belum banyak yang  mengenal kopi Mengani. Walaupun kalah ketenaran dibandingkan kopi Kintamani, tapi soal rasa tak dapat diragukan lagi. Karena itulah Simetri Home Coffee Roasters menyajikan kopi Mengani guna mengenalkan keunikan rasanya,” Riki memaparkan.

Karakteristik Kopi Mengani

Kopi Mengani sendiri sejak tahun 1992 mulai dikenal dan dibudidayakan di Bali dan diekspor ke negara lain seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Setiap tahunnya kopi Mengani memasuki masa panen di bulan Mei hingga September. Dalam sekali panen akan menghasilkan 14 ton biji kopi yang berkualitas baik.

Biji kopi Mengani yang berwarna kuning langsat dan memiliki ukuran 89 mm ini termasuk jenis kopi arabika yang memiliki 2 varietas yaitu Kopyol dan S795. Di Simetri Home Coffee Roasters, kopi Mengani di-roasting pada tahap light roast hingga medium roast. “Perlakuan roasting hanya sampai tahap medium roast supaya menghasilkan rasa atau aftertaste sweet caramel,” Riki mengatakan.

Metode penyeduhan kopi Mengani seperti single origin pada umumnya, yaitu menggunakan teknik manual brew atau menggunakan filter guna memaksimalkan rasa. Selain itu dapat pula diaplikasikan pada minuman kopi espresso based.

Menjaga Eksistensi Kopi Mengani

Menurut Riki, dalam beberapa tahun belakangan ini produktivitas kopi Mengani mengalami penurunan hasil panen dan kualitas. Kegagalan dalam masa panen ini disebabkan oleh faktor cuaca yang tidak stabil di Bali. Kopi Mengani menggunakan natural process sehingga faktor cuaca sangat menentukan kualitas biji kopinya. Faktor cuaca yang tidak stabil secara tidak langsung juga memengaruhi kinerja para petani kopi Mengani dalam mengurus kebun kopinya.

”Para petani kopi Mengani ada yang beralih pada penanaman buah yang lain yang lebih produktif ketimbang menanam pohon kopi,” Riki mengucapkan.

Tahun lalu sebagai salah bentuk dukungan pemerintah kepada para petani kopi, Pemerintah Daerah Bali menanam 500.000 benih baru tanaman kopi. Untuk ke depannya Riki berharap pemerintah terus memperhatikan para petani kopi dengan memberikan penyuluhan secara berkala serta mendukung penuh para petani kopi dalam menanam pohon kopi Mengani supaya menghasilkan biji kopi yang berkualitas baik. Diharapkan pula pemerintah mau mengenalkan kopi Mengani khas Bali ke kancah internasional.     

Penulis: Linda Endyanto

Fotografer: Hendri Wijaya

Leave a Reply