Kopikina, Tentang Biji Kopi Asal Indonesia

Sekitar 2-3 tahun yang lalu, tim Kopikina sering berkeliling ke berbagai daerah penghasil kopi di Indonesia. Berbagai varietas biji kopi dikumpulkan oleh tim Kopikina dan koleksinya telah mencapai sekitar 50-80 varian. Namun, karena dalam setahun terakhir, Kopikina lebih fokus pada pasokan kopi, maka untuk sementara koleksi biji kopinya dibatasi. Angga berencana akan menghidupkan koleksinya lagi di lokasi baru.

Menurut Angga, berbisnis kopi lokal memiliki beberapa keuntungan. Pertama harga biji kopi lokal lebih murah dibanding biji kopi impor karena biji kopi lokal tidak terkena pajak impor dan biaya logistik pun lebih murah. Kedua, beberapa tahun belakangan ini kualitas biji kopi lokal meningkat sehingga tidak kalah dari kualitas biji kopi impor. Ketiga, citarasa dari biji kopi lokal sudah meluas.

“Dulu orang mengimpor biji kopi karena ada beberapa cita rasa yang tidak ada di biji kopi Indonesia, namun sekarang spektrum rasa dari biji kopi lokal sendiri sangat luas. Terakhir, menjual biji kopi dengan sentimen Indonesia lebih mudah. Dengan adanya kampanye mendukung produk Indonesia, penjualan biji kopi lokal menarik banyak peminat,” Angga menuturkan.

Angga lalu menceritakan pengalamannya saat mencari koleksi kopinya. Dulu ia sering menemukan biji kopi yang aneh. Angga pernah menemukan biji kopi Abyssinia, salah satu biji kopi tua dan pertama yang masuk ke Indonesia. Biji kopi Abyssinia memiliki bentuk yang lonjong dan rasa yang sangat kompleks.

Adapula biji kopi dengan buah berwarna hitam yang ia temukan saat berkeliling di daerah Banjarnegara, Jawa Tengah. Biji kopi yang ditemukan oleh Angga berasal dari kebun kopi biasa, namun terkadang petani kopi tidak mengetahui bahwa ada beberapa biji kopi yang berbeda.

Dengan berkembangnya industri kopi di Indonesia dan edukasi tentang kopi yang sudah meluas, pengelompokkan kopi berdasarkan varietasnya sudah cukup umum. Berbeda dengan beberapa tahun yang lalu dimana jenis-jenis kopi di atas masih jarang ditemukan.

Kali ini Angga menunjukkan 3 jenis biji kopi yang biasanya dikenalkan kepada pengunjung Kopikina, yaitu Sungai Penuh Kayo Madu Merah, Arabica Sunda Ciwangi Bourbon, dan Gayo Kampung Kenawat. Ketiga kopi ini memiliki keunikan masing-masing.

Kopi Sungai Penuh Kayo Madu Merah berasal dari Jambi, dari perkebunan di perbatasan Jambi dan Sumatra Barat, diproduksi oleh koperasi Tani Kayo.  Biji kopinya diproses melalui proses pasca panen yang disebut Madu Merah. Kopi ini memiliki cita rasa yang kompleks, terdapat rasa buah seperti blueberry dan kismis, juga rasa madu.

Kopi Arabica Sunda Ciwangi Bourbon berasal dari daerah Ciwangi, kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Seduhan kopinya memiliki tingkat kemanisan yang cukup tinggi. Sedangkan Kopi Gayo Kampung Kenawat berasal dari Kampung Kenawat di dataran tinggi Gayo, Aceh. Karakter rasanya seperti Kopi Sungai Penuh Kayo, selain itu juga memiliki body yang lebih tebal, cocok bagi penikmat kopi klasik.

Leave a Reply