Kulina, jualan online catering tanpa harus punya dapur sendiri

Berawal dari keinginan untuk mengembangkan bisnis kuliner, tanpa harus membangun cabang restoran yang terbatas dan bermodal besar, Andy Fajar Handika mendirikan Kulina pada awal tahun 2016.

“Banyak restoran dan katering hanya sibuk saat akhir pekan. Dapur mereka memiliki potensi untuk mendapat penghasilan tambahan pada saat weekdays. Saya pun melihat potensi di Jakarta, banyak orang kantoran—terutama di gedung-gedung bertingkat, kesulitan mencari makan siang berkualitas, higienis, praktis dan terjangkau. Dari situlah, konsep Kulina hadir,” CEO Kulina yang akrab disapa Andy ini, membuka penjelasannya.

Namun, sebelum membangun Kulina, Andy sudah berkecimpung di bidang kuliner bahkan sempat mendirikan portal daring makandiantar.com.

“Sebelumnya, saya menjalankan beberapa restoran brick and mortar dengan berbagai konsep selama beberapa tahun. Ada foodcourt, restoran Korea, dan juga masakan peranakan di mana saya bekerjasama dengan (Alm) Bondan Winarno di tahun 2011 sampai dengan 2016. Portal makandiantar.com adalah momen transisi saya ke dunia digital, yang didirikan di tahun 2014 dan merupakan portal delivery atas beberapa restoran yang saya miiliki saat itu. Setelah Kulina didirikan, saya kemudian exit sepenuhnya setahun kemudian, dari bisnis restoran fisik dan fokus ke digital industry,” Andy menjelaskan.

Online Food Delivery Punya Potensi yang Cukup Besar di Jakarta

Andy kembali menjelaskan mengenai konsep Kulina, yaitu membuat jaringan restoran dan katering di Jakarta dengan konsep ‘jualan online catering tanpa harus punya dapur sendiri’. Menurut Andy, pasar online food delivery punya potensi yang cukup besar di Jakarta dengan penduduk DKI Jakarta dan pekerja total lebih dari 10 juta orang. Target jumlah pelanggan yang disasar Kulina untuk tahun 2021 adalah 500.000 pelanggan.

Andy kembali memaparkan bahwa Kulina sejatinya adalah marketplace yang mempertemukan antara konsumen dengan dapur mitra.

“Konsumen utamanya adalah skema B2C—atau menjual dan mengantarkan langsung ke konsumen yang memesan dari dapur mitra Kulina. Algoritma kami memungkinkan efisiensi logistik—ongkos kirim sangat rendah sehingga kami bisa menjual makanan tanpa tambahan ongkir lagi—bahkan mulai kurang dari Rp 20.000 per porsi. Kami juga melayani B2B/Corporate untuk perusahaan yang memesan makanan untuk karyawannya, di mana setiap karyawan bisa memilih sendiri menu yang diinginkan,” Andy menuturkan.

Penulis: Dewi Sri Rahayu

Foto: Dok. Andy Fajar Handika & Kulina

Leave a Reply