Kulina, Telah Bekerjasama dengan lebih dari 300 merchant

Curate, Educate, Feedback, adalah 3 poin penting bagi Andy dan team Kulina dalam menjaga kualitas makanan dan pelayanan Kulina. “Kulina dimulai dari kurasi yang ketat atas dapur mitra yang bergabung, kemudian edukasi atas produk dan standar kualitas yang bisa diterima oleh konsumen, lalu dipertahankan dengan skema feedback loops dari rating/review atau komentar langsung dari konsumen, yang kemudian diteruskan dan ditindaklanjuti ke pihak dapur mitra,” Andy memaparkan.

Lebih dari 300 merchant telah bergabung di bawah bendera Kulina. Di website Kulina terlihat bahwa perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang food & beverage (f&b), dari mulai usaha restoran hingga bakery telah bekerjasama dengan Kulina. 

Menurut Andy, hingga saat ini, dalam sehari, kapasitas pengantaran makanan ke para pelanggan Kulina mencapai kisaran belasan ribu boks per harinya, dengan pangsa pasar terbesar dari Kulina menyasar pekerja kantoran di Jakarta dan sekitarnya. “Di masa pandemi sampai penanganan pandemi Covid-19 ini, konsumen kami juga bergeser ke keluarga dan residensial di sekitar Jabodetabek,” Andy mengatakan.

Konsep Cloud Kitchen

Andy, dengan bisnis Kulina-nya tidak ingin mengklaim sebagai pionir pelaku usaha yang mengadopsi konsep cloud kitchen. “Tapi memang Kulina sudah mempunyai dapur mitra yang tersebar dan melakukan pengantaran berdasarkan location matching antara konsumen vs dapur sejak 2016, saat istilah cloud kitchen sendiri belum begitu dikenal di Indonesia,” Andy menegaskan.

Sebenarnya, apa keuntungan bagi para pelaku usaha kuliner yang bergabung dengan cloud kitchen provider di tengah masa pandemi Covid-19 saat ini? Apakah dapat menekan operational cost atau ada keuntungan lainnya yang lebih signifikan, Andy pun menjelaskan, “Secara konsep memang demikian, konsep cloud kitchen memiliki biaya yang lebih rendah dibandingkan restoran dengan gerai fisik yang melayani dine-in. Tidak perlu investasi besar untuk biaya sewa tempat tinggi seperti di Mall, ataupun biaya frontline untuk melayani konsumen.”

Tantangan Bisnis

Namun, apakah konsep cloud kitchen pada bisnis kuliner dapat terus bertahan? Andy mengatakan, bisnis yang bertahan adalah yang memiliki sustainable profit. Konsep cloud kitchen memperbesar kemungkinan mendapatkan profit dengan cara memperkecil biaya operasional dan investasi di awal.

“Tapi terus terang, saya melihat ada beberapa provider yang “menjual” bisnis cloud kitchen tapi sebenarnya yang mereka jual adalah multibrand franchise—delivery only. Ini bertentangan dengan konsep cloud kitchen yang sesungguhnya, yaitu supply/demand matching based on geographical location. Saya pikir ini yang riskan untuk terus bertahan,” Andy menuturkan.

Bicara tentang tantangan maupun hambatan terbesar dari penerapan konsep cloud kitchen pada usaha kuliner di Indonesia, Andy menjelaskan, bahwa tantangannya adalah ketika platform untuk cloud kitchen hanya dikuasai oleh segelintir pihak saja, maka mereka pada akhirnya bisa dengan mudah mengontrol harga/fee—sehingga operational cost yang rendah akan memiliki trade-off fee tinggi. “Bila tidak cermat, bisa saja cost/benefit-nya sama dengan bisnis konvensional—restoran brick & mortar, dine-in,” Andy mengatakan.

Andy yang sempat diundang oleh Google untuk mengikuti bootcamp Launchpad Accelerator di San Fransisco, Amerika Serikat, pada akhir Januari 2018, mengatakan bahwa tidak ada kiat spesial dalam mempertahankan laju bisnis Kulina, dikarenakan setiap keputusannya akan selalu melalui proses Experiment – Launch – Iterate. “Kalau gagal, ya move on,” Andy pun menutup penjelasannya.

Penulis: Dewi Sri Rahayu

Leave a Reply