Mam Mee Bakery & Kopihaus

“Kami sekeluarga suka makan, dan Mama kami juga hobi masak serta bikin kue,” Hariadi Salim tersenyum menjawab saat ditanya BARECA bagaimana Mam Mee Bakery terinspirasi untuk hadir. Adalah Hariadi dan saudara-saudaranya seperti Nuryati Salim, Yulia Salim, dan Desmalia Salim yang terlibat aktif dalam menggulirkan berdirinya Mam Mee Bakery pada tahun 2005 lalu.

Ibunda dari kakak adik tersebut dulunya memang aktif dalam membuat kue kering bernama Dahlia. Selain itu Yulia dan Nuryati juga rajin belajar membuat roti dan kue di berbagai kursus. Mengingat Nuryati yang baru kembali dari luar negeri belum ada kegiatan usaha apapun maka saudara-saudaranya mengajak membuka usaha bakery.

Nama Mam Mee

“Kami mencari nama yang cocok lama sekali juga,” Hariadi tertawa saat ditanya bagaimana nama Mam Mee hadir. Lalu mereka teringat kata Mama dan timbul ide nama Mam Mee (Mami). “Bisa juga dimaknai Makan Saya (Eat Me-Red) karena Mam bisa juga diartikan makan,” kami tertawa mendengar penjelasan tersebut.

Konsep bakery yang ditekankan oleh mereka adalah Fun Bakery dan gerai pertama sekaligus tempat produksinya ada di Jl. Mayor Salim Batubara no 7 Sekip Bendung, Palembang. Sambutan masyarakat Palembang atas kehadiran Mam Mee Bakery rupanya sangat bagus dan usaha keluarga tersebut segera berkembang dengan pesat dengan membuka berbagai gerai baru di Palembang.

Pembukaan banyak cabang tidak menjadikan manajemen Mam Mee Bakery kendor dalam menjaga kualitas produknya. “Kami tidak sekalipun memakai bahan pengawet atau bahan kimia yang tidak tepat dalam berbagai produk kami,” Hariadi tegas menjelaskan hal ini. Untuk menjaga kualitas produknya maka mereka membeli 6 ruko gandeng di daerah yang saat tahun 2013 lalu masih sepi yaitu di Komplek Ruko Taman Harapan Indah, sebagai tempat produksi. Dengan tempat produksi yang luas, maka pembagian ruangan kerja dan berbagai bahan baku dapat tertata dengan baik.

Meluaskan Usaha ke Restoran

Tempat produksi yang lebih luas juga memungkinkan Mam Mee Bakery berkembang menjadi 10 gerai. Pada tahun 2014, di bagian lantai dasar dibuka bakery sekaligus restoran yang diberi nama Mam Mee Bakery & Kopihaus. Suasana yang nyaman dihadirkan pada restoran yang juga berfungsi sebagai kafe yang nyaman tersebut.

Saat kami mendatangi gerai Mam Mee tersebut, ruangan tampak penuh oleh pengunjung. Bagi yang ingin merokok sambil menikmati santapan makanan dan minuman Mam Mee Bakery & Kopihaus dapat duduk di sisi outdoor bagian depan gerai, yang nyaman dan teduh. Tiga sisi gerai semua menyajikan pemandangan keluar sehingga gerai menjadi terang dan nyaman untuk berlama-lama di sana.

Selain itu di lantai 2 gedung juga terdapat tempat pelatihan pastry yang berkapasitas 25 orang yang juga bisa diubah menjadi tempat pertemuan. Untuk acara kumpul-kumpul sekitar 12 orang, maka di lantai 2 juga tersedia ruangan untuk kebutuhan rapat atau arisan. “Namun, suasana restoran di lantai dasar yang nyaman membuat pengunjung lebih memilih duduk di bawah,” Hariadi menjelaskan.

Berbagai hidangan masakan khas Palembang atau hidangan Nusantara disajikan di Kopihaus. Salah satu andalan adalah Pindang Kerupuk, dimana daging ikan Belida, yang sudah sangat sulit didapatkan, dijadikan kerupuk dulu baru disajikan dalam sajian Pindang khas Palembang. “Tak diduga hidangan ini, yang mana diperkenalkan pertama kali oleh kami, disukai pengunjung dan segera populer,” Hariadi tersenyum sambil memandang pengunjung.

Saat awal membuka rumah makan, sesuatu usaha yang mana berbeda dari usaha awal yaitu bakery, diakui Hariadi sempat keteteran menghadapi animo pengunjung yang memesan. “Pernah ada selisih paham antara pengunjung karena ingin dilayani duluan. Kami segera membenahi manajemen pelayanan pengunjung restoran kami dan sejak itu pengunjung puas dengan pelayanan kami,” Hariadi bertutur saat awal Kopihaus baru dibuka.

Menjaga Kualitas Produk dan Pelayanan

Untuk menjaga kualitas produk dan pelayanan kepada pengunjungnya, maka Mam Mee Bakery menerapkan pembagian kerja yang meliputi Produksi, Pemasaran dan Business Development. “Saat ini saya berfokus pada Business Development. Nuryati pada Pemasaran dan Yulia pada Produksi,” Hariadi menjelaskan area pembagian kerjanya.

Di bagian Produksi tercakup kegiatan yang berfokus pada Kontrol Kerja Karyawan, Kontrol Bahan Baku dan Peralatan Produksi sehingga seluruh produk yang dihasilkan memang terjaga dengan baik. Pada sisi Business Development mencakup pengembangan produk-produk baru agar sesuai dengan perkembangan pasar serta tentu saja perkembangan gerai ke lokasi lainnya.

Pada pemasaran mencakup bagaimana Mam Mee Bakery semakin dikenal dan dipercaya oleh pasarnya. Kerjasama dengan perbankan dan pemberian voucher untuk kembali datang ke Mam Mee Bakery & Kopihaus dihadirkan dan efektif menjaga kesetiaan pelanggan. Ruko yang tidak nampak dari jalan besar memang tidak mudah mendatangkan pengunjung, namun usaha keras kakak beradik tersebut untuk menghadirkan produk makanan yang berkualitas terbukti mampu membuat gerai Mam Mee Bakery & Kopihaus menjadi ramai.

Sambutan pasar yang antusias atas berbagai produk roti dan cake Mam Mee Bakery diperoleh dari pemakaian bahan baku yang terbaik. Salah satunya adalah cokelat merek Colatta yang diproduksi oleh PT Gandum Mas Kencana (GMK) yang dipakai oleh Mam Mee Bakery & Kopihaus. “Kami melihat kualitas Colatta bagus dan cocok diterima oleh pelanggan kami. Jika suatu produk sudah diterima oleh pelanggan dengan baik, maka kami tidak akan mengganti bahan bakunya dengan merek lain,” tegas Hariadi. Dalam hal pelayanan dan dukungan konsistensi pasokan dan kualitas produk diakui Hariadi bahwa Gandum Mas Kencana memuaskan.

“Di tempat pelatihan pastry kami yang ada di lantai 2 sering ada kerja sama demo pastry seperti dengan Gandum Mas Kencana, dan kami banyak mendapatkan ide dan tips yang bagus dari kegiatan demo Colatta tersebut,” Hariadi menjelaskan. Hariadi dan saudara-saudaranya tentu saja ingin melebarkan sayap bisnis Mam Mee Bakery, namun mereka berketetapan hati bahwa menjaga kualitas produksi agar dapat memuaskan pelanggan mereka yang setia adalah sangat penting dan utama.

Penulis          : Petrus Gandamana

Fotografer   : Hendri

Leave a Reply