Mengenal Konsep Cloud Kitchen dari Sudut Pandang Chef Mandif

BM: Saat ini, konsep cloud kitchen di Indonesia, sepertinya mulai diterapkan oleh banyak pelaku usaha food & beverage (f&b), sebenarnya apa itu konsep cloud kitchen? Dan apa keuntungan konsep ini?

MW: Kurang lebih 2 tahun lalu, saya sudah mulai berpikir tentang konsep cloud kitchen ini. Cloud kitchen adalah konsep di mana dalam satu dapur bisa memiliki beberapa online restaurant. Bisnis modul cloud kitchen dapat berbentuk sharing rental atau bahkan sistem bagi hasil. Pada saat ini, sangat memungkinkan untuk membangun bisnis daring karena perkembangan digital technology, ditambah dengan kebiasaan kita pada saat ini yang selalu mengikuti perkembangan sosial media.

Saya pikir membangun bisnis f&b secara sharing merupakan bisnis yang dapat berlanjut ke depan ketika resources dan property expenses mulai menjadi pertimbangan mendasar. Tidak seperti bisnis restoran umumnya, konsep cloud kitchen dapat memiliki beberapa brand produk walaupun dalam lokasi yang sama; menjadi sangat efisien dan efektif. Produk yang dihasilkan terjamin 3K; Keamanan, Kebersihan, dan Keselamatan. Layanan delivery akan menjadi efektif karena dapat mengambil beberapa menu pada lokasi penjemputan yang sama. Konsep ini pun tidak memerlukan investasi restoran fisik, dan cloud kitchen pun bisa digabungkan dengan usaha offline seperti katering.

Keuntungannya adalah operational expenses bisa menjadi lebih rendah. Keuntungan lainnya adalah investasi lebih murah dan lebih hemat. Marketing dapat dilakukan dalam bentuk group system, dan growth bisnis akan lebih cepat berakselerasi.

BM: Apakah Anda ada menerapkan konsep cloud kitchen pada usaha food & beverage (f&b)  yang ditangani?

MW: Sebenarnya, saya memiliki beberapa ide lebih dari cloud kitchen itu sendiri, saya berharap semoga ada investor yang tertarik, tetapi ide saya ini tidak mengacu kepada bisnis f&b saya saja, tetapi kepada semua pemilik bisnis f&b yang sangat mencintai kuliner.

BM: Dari sudut pandang Anda, apa saja tantangan maupun hambatan terbesar dari penerapan konsep cloud kitchen pada usaha food & beverage (f&b) di Indonesia, lalu apa solusi terbaik untuk menghadapi hambatan tersebut?

MW: Saya melihat ini tantangan bukan hambatan. Tantangan utama adalah, pertama, pemilihan lokasi dapur apabila kurang tepat dapat mengakibatkan jalur logistik menjadi mahal.

Kedua, harus mampu membuat produk yang menarik dan unik—bukan hanya enak secara rasa. Ketiga, tantangan menjaga temperatur makanan; dengan sistem pengiriman, konsumen tidak dimungkinkan untuk mendapatkan rasa yang sama seperti setelah dimasak—pembuatan menu menjadi sangat penting dalam hal ini; buatlah makanan yang dapat dihangatkan oleh konsumen tanpa merusak tekstur dan kualitas cita rasa.

Keempat, kita diharapkan untuk peka terhadap digital marketing.

Kelima, apakah kita mampu memperhatikan online review secara berkala?

Keenam, sejauh mana kita peduli untuk membangun infrastruktur digital seperti website dan lainnya.

Leave a Reply