Mengenal Ragam Keunikan Rasa Kopi Malabar

Biji kopi Malabar yang berasal dari Gunung Malabar, Jawa Barat, sudah dikenal sejak lama, yaitu sejak jaman penjajahan Belanda. Hingga kini kopi Malabar masih merupakan salah satu biji kopi terbaik karena para petani biji kopi Malabar selalu berupaya merawat dengan baik tanaman kopi Malabar.

“Biji kopi dari Gunung Malabar adalah salah satu kopi yang terbaik dalam hal cita rasanya. Para petani terus melakukan pemeliharaan pada semua tanaman kopi Malabar supaya tanaman kopi tersebut dapat berbuah sepanjang usia dan berkualitas baik. Peremajaan juga akan dilakukan pada tanaman kopi yang sama sekali tidak memiliki harapan tumbuh dengan baik,” Susan Irma Ranti, Roaster Northsider, memaparkan.

Dengan tumbuh di dataran tinggi yang bertanah subur dengan ketinggian 1.500-1.800 mdpl (meter dari permukaan laut), berudara sejuk dengan curah hujan sedang menjadikan tanaman kopi Malabar mampu tumbuh dengan baik. Selain itu, kopi Malabar yang termasuk jenis arabika juga menghasilkan aroma yang unik dan beragam seperti lemongrass, floral, lemon dengan aftertaste-nya sweetness dan clean. Karena itu tak heran kopi Malabar sangat diminati oleh para pecinta kopi.

Produktivitas Kopi Malabar

Tanaman kopi Malabar memasuki masa panen raya sekitar bulan Juni sampai Agustus setiap tahunnya. Menurut Susan, pasokan biji kopi Malabar selalu stabil, meskipun terkadang ada kendala yang disebabkan karena faktor cuaca yang akan sangat memengaruhi masa panen dan kualitas tanaman kopi Malabar.

Jumlah tanaman kopi Malabar per hektarnya sekitar 2.000 batang pohon dengan rata-rata produksi ceri merah sekitar 3 kilogram untuk 1 pohon. “Ada kalanya hasil produksi belum bisa maksimal karena saat awal take over lahan tanaman kopi Malabar, harus dilakukan terlebih dahulu pemeliharaan pohon-pohon lama, melakukan penanaman pada areal yang kosong serta mengganti pohon yang sudah tidak produktif,” Susan mengungkapkan.

Petani tanaman kopi Malabar perlu diedukasi lebih baik lagi mengenai bagaimana mengelola lahan tanaman kopi, merawat tanaman kopi, memahami masa panen, memilih kualitas yang baik yang dapat meningkatkan jumlah produksi kopi.

“Saya berharap pemerintah dapat mendorong para petani untuk lebih meningkatkan produktivitasnya serta mendorong para petani muda untuk turut membudidayakan tanaman kopi. Memberi edukasi dan arahan yang benar kepada para petani juga sangat penting untuk dilakukan secara berkala supaya hasil produksi dapat terus meningkat,” Susan menjelaskan.

Kopi Malabar di Ombé Kofie

Northsider menjadi salah satu partner roastery yang memasok biji kopi di Ombé Kofie. Saat ini jenis biji kopi Malabar yang terdapat di Ombé Kofie ialah biji kopi Arabika Malabar yang diproses dengan metode red honey yang menghasilkan cita rasa manis yang lebih dominan dengan tingkat keasaman yang seimbang. “Proses red honey sangat tepat jika di-roasting sampai tahap light roast,” Susan mengungkapkan.

Aplikasi penyeduhan kopi Malabar baiknya dilakukan dengan metode manual/filter dengan menggunakan V60 atau Kalita Wave. Metode penyeduhan yang tepat akan semakin memaksimalkan cita rasa kopi Malabar. Dalam metode manual brewing perlu juga diperhatikan komposisi yang pas antara bubuk kopi dan air. Sebaiknya ratio range-nya menggunakan perbandingan 1:14 hingga 1:16, yaitu 15 gram kopi dengan takaran air berkisar 210-240 gram air.

Penulis: Linda Endyanto

Fotografer: Kanno Sardella

Leave a Reply