Pengaruh Budaya Tionghoa dalam Kuliner Indonesia

Kuliner merupakan salah satu ciri khas dari sebuah kebudayaan. Indonesia memiliki banyak varian kuliner karena kayanya keragaman suku bangsa di Indonesia. Ragam kuliner di Indonesia berasal dari percampuran budaya satu dengan yang lain, salah satunya adalah budaya Tionghoa.

Udaya Halim, aktivis budaya Tionghoa dan pendidik serta founder dari KING’S Group of Education dan juga pendiri Museum Benteng Heritage di Tangerang, menyediakan waktunya untuk berdiskusi mengenai pengaruh budaya Tionghoa terhadap kuliner Indonesia dengan BARECA via daring beberapa waktu lalu.

Perjalanan Budaya Tionghoa ke Indonesia

Menurut Udaya, kontak budaya Tionghoa dengan Indonesia bisa ditelusuri sampai ke zaman kerajaan Singosari (tahun 1290-an) di mana Kubilai Khan, Penguasa di Tiongkok kala itu, yang mengirim 2000 pasukan ke pulau Jawa dan berperang dengan Raden Wijaya. Pasukan Kubilai Khan yang diantaranya dari tentara suku Han—pada masa itu Tiongkok sedang dijajah oleh suku Mongol, kalah melawan pasukan Raden Wijaya. Dihantui oleh rasa takut akan hukuman mati jika pulang membawa kekalahan akhirnya pasukan Kubilai Khan malah menetap di pulau Jawa. Di sinilah pengaruh kuliner Tionghoa yang dibawa oleh pasukan ini mulai berasimilasi dengan budaya lokal.

Ekspedisi Tiongkok ke Indonesia berlanjut dengan datangnya armada laut besar yang dipimpin oleh Laksamana Cheng Ho dari tahun 1405 hingga tahun 1433. Cheng Ho membawa 307 armada kapal beserta 27.800 pengikutnya, melakukan pelayaran ke Nanyang dengan tujuan melakukan barter.

Armada yang besar membutuhkan pasokan makanan yang besar pula dalam rombongan tersebut. Indonesia atau yang dulu disebut Nusantara termasuk wilayah yang dilewati pelayaran Cheng Ho. Pada tahun 1405, armada Cheng Ho mendarat di pulau Jawa dan menyebarkan pula teknologi pangan dan pertanian yang dibawa oleh divisi perbekalan armada tersebut.

Budaya Tionghoa dalam Khasanah Kuliner Indonesia

Ekspedisi Cheng Ho di Indonesia membawa banyak pengaruh budaya baru, seperti pengolahan makanan, yang kita terapkan hingga saat ini, juga teknologi pertanian, pertukangan, pandai besi hingga bahasa. Hingga saat ini kita dapat melihat pengaruh budaya Tionghoa di meja makan kita dalam bentuk makanan yang kita makan.

Udaya mencontohkan tao atau kedelai merupakan tanaman yang dikenalkan oleh Cheng Ho ke penduduk lokal. Kedelai ini diolah menjadi aneka makanan seperti tauge—kedelai yang ditanam, tahu (dari kata taofu)—kedelai yang digiling, tauco—kedelai yang difermentasikan dengan diasinkan, dan kecap-kedelai yang difermentasi menjadi saus. Makanan ini abadi dan menjadi budaya lokal yang menyatu erat sampai saat ini.

Di samping kedelai, ada banyak masakan Indonesia yang terpengaruh dari budaya Tionghoa dan bahasa Tiongkok misalnya kata cai yang berarti sayur dalam bahasa Hokkien. Kita dapat menemui sayuran yang menggunakan kata cai di pasar contohnya kucai, pe’cai (sawi putih), dan caisim, adapun masakan yang menggunakan sayur yang sering disebut dengan Cap Cai.

Udaya melanjutkan beberapa contoh kuliner Indonesia lainnya yang terakulturasi dengan budaya Tiongkok. Kata pia yang berarti pastry ditemukan di makanan yang cukup terkenal di Jawa seperti Bapia dari Jogjakarta, lumpia dari Semarang, dan sumpia dari Jakarta.

Tidak lupa kue tongcupia atau kue bulan yang biasanya dijual di pertengahan bulan September atau awal Oktober. Menurut Udaya, kue tiongcupia yang berbentuk bulat ini merupakan kue tiongcupia kuno yang berasal dari Hokkian. Dibandingkan dengan kue bulan yang ditemukan di negara seperti Singapura dan Malaysia, tongcupia di Indonesia tergolong kuno. Hal ini disebabkan karena budaya Tionghoa di Indonesia lebih tua dibanding di negara Asia Tenggara lainnya, karena jarak dari Tiongkok ke Indonesia lebih jauh, sehingga lebih lama mengalami perubahan dinamika budaya sebagaimana yang terjadi di asalnya.

“Semakin jauh dari pusat kebudayaan, maka evolusi budaya juga semakin lambat. Sementara semakin dekat dengan pusat kebudayaan, maka evolusi budaya juga akan semakin cepat mengikuti asal budaya tersebut. Memahami latar belakang suatu budaya, mengapresiasinya dan merawatnya, merupakan bagian dari pelestarian budaya yang penting dalam menunjukkan derajat suatu bangsa,” demikian Udaya menutup percakapan dengan BARECA.

Penulis: Alvina Wikarna

Leave a Reply