Profil Udaya Halim, Sosok Tokoh yang Mencintai Tanah Air

.Meski sudah lebih dari 20 tahun Udaya Halim tidak menetap di Indonesia, namun baginya, Indonesia tetaplah negara kelahiran dan tempat ia dibesarkan. Saat ini, Udaya Halim dan keluarganya menetap di Perth, Australia. Rasa cintanya terhadap Indonesia demikian besar, selain juga Udaya sangat menghormati para leluhurnya. Udaya Halim adalah seorang peranakan Tionghoa, yang lahir di Tangerang, dan dia sangat menentang segala bentuk diskriminasi.

“Bukan hanya diskriminasi yang dilakukan oleh orang yang bukan Tionghoa saja yang saya tentang, tetapi juga diskriminasi yang dilakukan oleh sesama peranakan Tionghoa. Peranakan Tionghoa di Tangerang yang dikenal dengan sebutan Cina Benteng, kerap mendapat perlakuan diskriminasi dari sesama peranakan Tionghoa lainnya. Saya sangat menentang hal ini,” tegas Pria yang menyukai fotografi ini.

Udayapun memerangi kelompok Tionghoa yang rasis terhadap etnis lainnya di Indonesia.Pokoknya prinsip Udaya adalah semua orang harus diperlakukan sama, tanpa kecuali.  Udaya dengan ramah dan murah hati dalam menyampaikan pemikirannya saat BARECA berbincang dengannya melalui percakapan daring.

Udaya yang juga Presiden dari persaudaraan PERTIWI (Peranakan Tionghoa & Warga Indonesia), juga memiliki kepedulian tinggi terhadap sejarah hingga budaya Tionghoa di Indonesia, tidak heran jika dirinya lebih memilih aktif dan bekerja di bidang ilmu dan pendidikan.

Jiwa Pendidik dan Budayawan

Udaya adalah seorang yang berjiwa kuat sebagai Pendidik. Dia adalah founder dari King’s Group of Education yang didirikan sejak tahun 1981—berpusat di Tangerang. Selain pemilik dari King’s Group of Education, Udaya juga pemilik dari Prince’s Creative School dan IBEC (Indonesia Britain Education Centre—mitra dari The British Council Indonesia sejak 1998). Dengan menjadi pendidik, Udaya ingin mendobrak stigma bahwa seorang Tionghoa hanya cocok menjadi pengusaha saja.

Udaya juga seorang Peneliti Independen yang mendedikasikan waktunya untuk melakukan sejumlah penelitian mengenai sejarah dan budaya Tionghoa di Indonesia. Dedikasinya ini melahirkan kesadaran akan pentingnya melestarikan peninggalan sejarah dari setiap budaya dan tradisi yang ada di Indonesia. Salah satunya output-nya, adalah pelestarian bangunan kuno yang kini menjadi Museum Benteng Heritage yang ada di Tangerang.

 “Museum Benteng Heritage merupakan hasil restorasi sebuah bangunan berasitektur tradisional Tionghoa. Bangunan ini adalah salah satu bangunan tertua di Kota Tangerang dan diperkirakan dibangun pada pertengahan abad ke-17,” Udaya yang juga aktif sebagai Head of International Relation di AMI (The Association of Museums in Indonesia), menuturkan.

Udaya membangun dan membuka museum untuk umum bukan untuk membuat dirinya terkenal, namun lebih sebagai dedikasinya pada pelestarian suatu budaya yang luhur dan indah agar masyarakat dapat mengapresiasi kebaikan dari suatu kebudayaan. Ini terbukti dengan tidak adanya pajangan pengumuman pemilik museum adalah Udaya Halim di museumnya. Hobinya mengoleksi barang-barang antik, misalnya gramafon, kamera dan benda-benda bersejarah, turut menjadi sumbangsih penting bagi museumnya. Dalam waktu dekat Udaya juga akan membuka satu museum lagi di kota Rembang.

Sebelum menutup percakapan dengan kami, Udaya menyampaikan bahwa banyak masyarakat Cina Benteng yang turut merasa bangga dengan adanya Museum Benteng Heritage, yang efeknya turut mengangkat harga diri dan keberadaan masyarakat Cina Benteng. Usaha Udaya yang tak kenal lelah dalam menggerus diskriminasi, termasuk kepada masyarakat Cina Benteng di Tangerang, memang sudah sepantasnya kita dukung dan berikan apresiasi.

Simak ulasan mengenai Museum Benteng Heritage di artikel liputan khusus BARECA ke Museum Benteng Heritage yang akan tampil di BARECA Edisi Januari 2021.

Penulis: Dewi Sri Rahayu

Foto: Dok. Udaya Halim

Leave a Reply